Skip to main content

teruntuk perempuan hebat

tulisan ini untuk pahlawan perempuan dimanapun yang telah berjuang. hari ini perempuan "boleh" menulis, membaca atau mengeyam pendidikan tinggi dan jauh, ada banyak sekali beasiswa yang diberikan kepada perempuan agar bisa mengejar cita-citanya bukan hanya sekedar menjadi ibu rumah tangga. tapi semua ini tidak bisa disimpulkan bahwa perempuan dan laki-laki sudah setara, perempuan belum terlepas dari penderitaanya. Siapa yang tidak mengenal Ibu RA Kartini pahlawan perempuan yang memperjuangkan hak untuk bebas dari pingitan dan kungkungan adat. mungkin nama pahlawan yang satu ini jarang terdengar, Ibu HJ Rangkayo Rasuna Said. beliau memperjuangkan hak perempuan khusunya di bidang pendidikan dan politik, beliau perempuan pertama yang di bui oleh Kolonial Belanda dengan tuduhan ujaran kebencian karena pidatonya. RA Kartini dan HJ Rangkayo, 2 perempuan dari jutaan perempuan yang sama-sama memperjuangkan hak-hak perempuan. saya yakin banyak sekali tulisan pahlawan perempuan yang dilupakan atau sengaja dihilangkan, pernikahan diwajibkan diusia muda, mengasuh anak dibebankan.
jika ada kehidupan setelah kematian, surga sudah menjadi tempatmu. jika tidak ada kehidupan setelah kematian, kami disini akan menjadi salah satu perempuan yang akan mengingat gagasan, karya-karya, serta memberikan semangat keadilan bagi sesama untuk meneruskan perjuanganmu.

Comments

Popular posts from this blog

Aku yang Bertahan, Aku yang Melanjutkan

Aku menulis dari titik yang tidak sepenuhnya terang, tapi cukup hangat untuk membuatku percaya bahwa melangkah masih mungkin; aku datang membawa ragu, rasa tertinggal, dan pertanyaan yang belum punya jawaban.  Hari ini aku memilih diriku sendiri, bukan dengan keputusan besar yang menggelegar, melainkan dengan langkah kecil yang jujur, menyiapkan alat, menata harapan, dan berkata pelan bahwa aku layak mencoba lagi. Aku tidak menghapus masa yang bingung; aku menggendongnya, membawa semua versi diriku yang takut, capek, dan hampir menyerah, lalu tetap berjalan.  Waktu berlalu, dan setahun kemudian aku kembali membaca kata-kata ini dengan senyum yang lebih tenang, ingin mengucap terima kasih karena ternyata bertahan saja sudah cukup untuk mengubah banyak hal.  Tidak semua mimpi langsung tercapai, masih ada hari ragu dan lelah, tetapi aku tidak lagi memusuhi diriku sendiri; aku belajar bahwa takut bukan tanda salah jalan, melainkan tanda aku peduli. Alat yang dulu kupilih deng...

Diamku, masih rindu.

Pernah, kau datang seperti pagi,   lembut, hangat, dan tanpa diminta,   menyapa hatiku yang belum sempat   belajar percaya pada cinta. Kau mengejarku dengan cahaya,   sementara aku hanya berdiri—   tak tahu arah,   tak tahu bahwa kamu adalah tempat pulang   yang tidak bisa kupahami saat itu. Kini waktu berputar pelan,   dan aku di sini…   mengeja namamu di sela harapan yang samar,   mencari jejakmu dalam tiap rindu   yang tak sempat kupeluk saat kamu masih dekat. Kau di sana,   dengan langit yang lebih tinggi,   gunung-gunung yang menatapmu bangga,   sementara aku hanya diam di kaki dunia,   memandangmu dari jauh,   dengan rasa yang tak lagi bisa kusampaikan. Aku ingin bertemu,   bukan untuk mengubah takdir,   bukan untuk meminta kembali,   tapi hanya untuk merasakan lagi:   hadirmu yang du...

Terlalu Pagi

Mungkin terdengar berlebihan jika diam-diam aku masih menyebut namamu dalam doa, memintanya dengan hati yang tak lagi seberani dulu. Aku tahu, kini hatimu telah berlabuh di tempat yang bukan lagi aku, dan kenyataan itu pelan-pelan kuterima, meski belum sepenuhnya kuikhlaskan. Rasanya memang masih terlalu pagi untuk berani mengatakan bahwa aku sudah melupakanmu. Sebab beberapa kenangan masih tinggal, menetap di sudut-sudut kecil ingatan, muncul tanpa diundang pada waktu-waktu yang paling sunyi. Perasaan ini belum selesai berjalan. Ia hanya memilih diam, memberi ruang pada diri sendiri untuk bernapas dan mengerti. Belajar membedakan mana yang harus dilepas, mana yang cukup disimpan sebagai cerita. Aku tak lagi meminta untuk kembali, hanya berharap hatiku suatu hari nanti cukup lapang untuk menerima kenyataan, dan cukup tenang untuk melepaskanmu tanpa menyimpan luka yang berisik.