Skip to main content

Posts

Tentang UMR dan Pinjol

Kadang aku bertanya, ini hanya kecelakaan tata kelola negara yang salah urus, atau justru sebuah desain sosial yang dibangun dengan penuh kesadaran? Mengapa bekerja penuh waktu tak selalu cukup untuk hidup dengan layak? Mengapa upah yang diterima di akhir bulan sering kali sudah habis sebelum bulan itu benar-benar selesai? Di tengah celah itu, pinjaman online datang menawarkan pertolongan. Cepat, mudah, tanpa banyak pertanyaan. Bagi sebagian orang, ia bukan lagi pilihan, melainkan instrumen esensial untuk menyambung nyawa. Pinjaman online menjadi alat tambal kelangsungan hidup, tempat orang mencari napas tambahan saat penghasilan tak lagi mampu mengejar kebutuhan. Ia menjelma seperti subsidi swasta— mengompensasi sesuatu yang seharusnya dijamin oleh sistem. Ironisnya, yang seharusnya menjadi jalan darurat perlahan berubah menjadi bagian dari rutinitas. Bukan karena masyarakat menyukai utang, tetapi karena hidup semakin mahal, sementara daya beli semakin rapuh. Dan di situlah pertanyaan...
Recent posts

Belajar Bernafas Lagi

 2025 adalah tahun bertahan sambil belajar bernapas lagi. Bukan tahun yang penuh sorak pencapaian atau cerita besar yang mudah dibanggakan, melainkan tahun yang sunyi, berat, dan sering membuatku bertanya pada diri sendiri. Di tahun ini, aku belajar menerima bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana, bahwa ada masa di mana aku tahu aku bisa lebih, tapi belum tahu bagaimana sampai ke sana. Rasanya melelahkan, karena bukan hanya keadaan yang harus kuhadapi, tapi juga pikiranku sendiri. Namun di balik semua kebingungan itu, 2025 mengajarkanku kejujuran. Aku mulai berani mengakui lelah tanpa merasa lemah, mengakui luka tanpa harus menutupinya, dan berhenti menyalahkan diri atas hal-hal yang berada di luar kendaliku. Dari luar, hidupku mungkin terlihat biasa saja, bahkan stagnan. Tapi di dalam, ada pergeseran besar: aku mulai memahami diriku sendiri dengan lebih lembut. 2025 bukan tahun kegagalan, melainkan fondasi yang sunyi, tempat aku belajar bertahan tanpa kehilangan hati, ag...

Terlalu Pagi

Mungkin terdengar berlebihan jika diam-diam aku masih menyebut namamu dalam doa, memintanya dengan hati yang tak lagi seberani dulu. Aku tahu, kini hatimu telah berlabuh di tempat yang bukan lagi aku, dan kenyataan itu pelan-pelan kuterima, meski belum sepenuhnya kuikhlaskan. Rasanya memang masih terlalu pagi untuk berani mengatakan bahwa aku sudah melupakanmu. Sebab beberapa kenangan masih tinggal, menetap di sudut-sudut kecil ingatan, muncul tanpa diundang pada waktu-waktu yang paling sunyi. Perasaan ini belum selesai berjalan. Ia hanya memilih diam, memberi ruang pada diri sendiri untuk bernapas dan mengerti. Belajar membedakan mana yang harus dilepas, mana yang cukup disimpan sebagai cerita. Aku tak lagi meminta untuk kembali, hanya berharap hatiku suatu hari nanti cukup lapang untuk menerima kenyataan, dan cukup tenang untuk melepaskanmu tanpa menyimpan luka yang berisik.

Aku yang Bertahan, Aku yang Melanjutkan

Aku menulis dari titik yang tidak sepenuhnya terang, tapi cukup hangat untuk membuatku percaya bahwa melangkah masih mungkin; aku datang membawa ragu, rasa tertinggal, dan pertanyaan yang belum punya jawaban.  Hari ini aku memilih diriku sendiri, bukan dengan keputusan besar yang menggelegar, melainkan dengan langkah kecil yang jujur, menyiapkan alat, menata harapan, dan berkata pelan bahwa aku layak mencoba lagi. Aku tidak menghapus masa yang bingung; aku menggendongnya, membawa semua versi diriku yang takut, capek, dan hampir menyerah, lalu tetap berjalan.  Waktu berlalu, dan setahun kemudian aku kembali membaca kata-kata ini dengan senyum yang lebih tenang, ingin mengucap terima kasih karena ternyata bertahan saja sudah cukup untuk mengubah banyak hal.  Tidak semua mimpi langsung tercapai, masih ada hari ragu dan lelah, tetapi aku tidak lagi memusuhi diriku sendiri; aku belajar bahwa takut bukan tanda salah jalan, melainkan tanda aku peduli. Alat yang dulu kupilih deng...

Semoga Tenang

 Aku bisa ngerti perasaan kamu. Suka sama seseorang yang kelihatannya punya hidup “sempurna” tuh campur aduk banget: antara kagum, suka, dan mungkin juga ngerasa kecil atau jauh dari dia, ya? Tapi tahu nggak, dari cerita kamu sendiri, sebenarnya itu nunjukin kalau kamu peka, punya hati yang besar, dan bisa melihat keindahan dalam hidup orang lain. Itu bukan kelemahan, itu kekuatan. Cuma kadang, kita jadi terlalu fokus sama "milik orang lain", sampai lupa kalau kita juga punya hal-hal berharga yang nggak semua orang punya. Orang itu memang lagi di fase hidup yang mungkin keliatan ideal, tapi kamu nggak tahu perjuangan atau luka yang pernah dia simpan juga. Semua orang punya prosesnya masing-masing. Dan kamu dengan perasaan yang tulus ini, lagi dalam proses kamu sendiri. Siapa tahu, rasa kagum kamu itu bisa jadi bahan bakar buat berkembang? Kamu udah berani mengakui perasaanmu sekarang, itu nggak kecil. Itu bukti kamu bertumbuh. Dan meskipun dia nggak bisa membalas perasaan k...

Diamku, masih rindu.

Pernah, kau datang seperti pagi,   lembut, hangat, dan tanpa diminta,   menyapa hatiku yang belum sempat   belajar percaya pada cinta. Kau mengejarku dengan cahaya,   sementara aku hanya berdiri—   tak tahu arah,   tak tahu bahwa kamu adalah tempat pulang   yang tidak bisa kupahami saat itu. Kini waktu berputar pelan,   dan aku di sini…   mengeja namamu di sela harapan yang samar,   mencari jejakmu dalam tiap rindu   yang tak sempat kupeluk saat kamu masih dekat. Kau di sana,   dengan langit yang lebih tinggi,   gunung-gunung yang menatapmu bangga,   sementara aku hanya diam di kaki dunia,   memandangmu dari jauh,   dengan rasa yang tak lagi bisa kusampaikan. Aku ingin bertemu,   bukan untuk mengubah takdir,   bukan untuk meminta kembali,   tapi hanya untuk merasakan lagi:   hadirmu yang du...

Rindu yang ingin ditenangkan

Aku tidak tahu harus memulai dari mana. Rasanya ada begitu banyak yang ingin kusampaikan, tapi lidahku kelu dan hatiku penuh. Yang aku tahu pasti… aku merindukanmu. Bukan hanya rindu pada sosokmu, tapi juga pada kebersamaan yang pernah ada, perhatian-perhatian kecil, dan caramu membuat dunia terasa lebih hangat. Aku masih ingat saat kamu mengejarku dengan ketulusan yang mungkin belum bisa aku hargai sepenuhnya waktu itu. Aku belum siap, belum tahu apa yang hatiku inginkan. Dan kini, ketika semuanya sudah berbeda, aku justru merasa... kehilangan sesuatu yang tidak sempat benar-benar kumiliki. Mungkin aku terlambat menyadari, bahwa aku menyukaimu. Bahwa aku ingin kamu tetap di hidupku. Tapi kini, rasanya semua itu tidak mungkin lagi. Kamu sudah melangkah jauh, dengan hidupmu yang terlihat begitu hebat dan aku hanya bisa melihat dari kejauhan, diam-diam berharap kamu sesekali menoleh. Jika aku diberi satu kesempatan untuk bertemu, aku tidak akan meminta banyak. Aku hanya ingin duduk di de...