Pernah, kau datang seperti pagi,
lembut, hangat, dan tanpa diminta,
menyapa hatiku yang belum sempat
belajar percaya pada cinta.
Kau mengejarku dengan cahaya,
sementara aku hanya berdiri—
tak tahu arah,
tak tahu bahwa kamu adalah tempat pulang
yang tidak bisa kupahami saat itu.
Kini waktu berputar pelan,
dan aku di sini…
mengeja namamu di sela harapan yang samar,
mencari jejakmu dalam tiap rindu
yang tak sempat kupeluk saat kamu masih dekat.
Kau di sana,
dengan langit yang lebih tinggi,
gunung-gunung yang menatapmu bangga,
sementara aku hanya diam di kaki dunia,
memandangmu dari jauh,
dengan rasa yang tak lagi bisa kusampaikan.
Aku ingin bertemu,
bukan untuk mengubah takdir,
bukan untuk meminta kembali,
tapi hanya untuk merasakan lagi:
hadirmu yang dulu membuat hidupku lebih hidup.
Dan bila pun kau tak lagi bisa mencintaiku,
tak apa.
Biarlah rasa ini jadi puisi,
tempat aku menyimpanmu—
dalam diam yang lembut,
dalam kenangan yang tak mengganggu.
Comments
Post a Comment