Kadang aku bertanya,
ini hanya kecelakaan tata kelola negara yang salah urus,
atau justru sebuah desain sosial
yang dibangun dengan penuh kesadaran?
Mengapa bekerja penuh waktu
tak selalu cukup untuk hidup dengan layak?
Mengapa upah yang diterima di akhir bulan
sering kali sudah habis
sebelum bulan itu benar-benar selesai?
Di tengah celah itu,
pinjaman online datang menawarkan pertolongan.
Cepat, mudah, tanpa banyak pertanyaan.
Bagi sebagian orang,
ia bukan lagi pilihan,
melainkan instrumen esensial untuk menyambung nyawa.
Pinjaman online menjadi alat tambal kelangsungan hidup,
tempat orang mencari napas tambahan
saat penghasilan tak lagi mampu mengejar kebutuhan.
Ia menjelma seperti subsidi swasta—
mengompensasi sesuatu yang seharusnya dijamin oleh sistem.
Ironisnya,
yang seharusnya menjadi jalan darurat
perlahan berubah menjadi bagian dari rutinitas.
Bukan karena masyarakat menyukai utang,
tetapi karena hidup semakin mahal,
sementara daya beli semakin rapuh.
Dan di situlah pertanyaan itu kembali muncul:
apakah ini sekadar kegagalan kebijakan,
atau memang sebuah arsitektur sosial
yang membuat sebagian orang harus terus bergantung
agar roda ekonomi tetap berputar?
Sebab ketika pinjaman menjadi kebutuhan pokok,
dan utang menjadi syarat untuk bertahan hidup,
barangkali yang sedang bermasalah bukan individunya,
melainkan sistem yang membuat keadaan itu terasa normal.
Comments
Post a Comment