Skip to main content

Belajar Bernafas Lagi

 2025 adalah tahun bertahan sambil belajar bernapas lagi. Bukan tahun yang penuh sorak pencapaian atau cerita besar yang mudah dibanggakan, melainkan tahun yang sunyi, berat, dan sering membuatku bertanya pada diri sendiri. Di tahun ini, aku belajar menerima bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana, bahwa ada masa di mana aku tahu aku bisa lebih, tapi belum tahu bagaimana sampai ke sana. Rasanya melelahkan, karena bukan hanya keadaan yang harus kuhadapi, tapi juga pikiranku sendiri.

Namun di balik semua kebingungan itu, 2025 mengajarkanku kejujuran. Aku mulai berani mengakui lelah tanpa merasa lemah, mengakui luka tanpa harus menutupinya, dan berhenti menyalahkan diri atas hal-hal yang berada di luar kendaliku. Dari luar, hidupku mungkin terlihat biasa saja, bahkan stagnan. Tapi di dalam, ada pergeseran besar: aku mulai memahami diriku sendiri dengan lebih lembut. 2025 bukan tahun kegagalan, melainkan fondasi yang sunyi, tempat aku belajar bertahan tanpa kehilangan hati, agar kelak aku bisa tumbuh dengan lebih dalam.

Comments

Popular posts from this blog

Aku yang Bertahan, Aku yang Melanjutkan

Aku menulis dari titik yang tidak sepenuhnya terang, tapi cukup hangat untuk membuatku percaya bahwa melangkah masih mungkin; aku datang membawa ragu, rasa tertinggal, dan pertanyaan yang belum punya jawaban.  Hari ini aku memilih diriku sendiri, bukan dengan keputusan besar yang menggelegar, melainkan dengan langkah kecil yang jujur, menyiapkan alat, menata harapan, dan berkata pelan bahwa aku layak mencoba lagi. Aku tidak menghapus masa yang bingung; aku menggendongnya, membawa semua versi diriku yang takut, capek, dan hampir menyerah, lalu tetap berjalan.  Waktu berlalu, dan setahun kemudian aku kembali membaca kata-kata ini dengan senyum yang lebih tenang, ingin mengucap terima kasih karena ternyata bertahan saja sudah cukup untuk mengubah banyak hal.  Tidak semua mimpi langsung tercapai, masih ada hari ragu dan lelah, tetapi aku tidak lagi memusuhi diriku sendiri; aku belajar bahwa takut bukan tanda salah jalan, melainkan tanda aku peduli. Alat yang dulu kupilih deng...

Diamku, masih rindu.

Pernah, kau datang seperti pagi,   lembut, hangat, dan tanpa diminta,   menyapa hatiku yang belum sempat   belajar percaya pada cinta. Kau mengejarku dengan cahaya,   sementara aku hanya berdiri—   tak tahu arah,   tak tahu bahwa kamu adalah tempat pulang   yang tidak bisa kupahami saat itu. Kini waktu berputar pelan,   dan aku di sini…   mengeja namamu di sela harapan yang samar,   mencari jejakmu dalam tiap rindu   yang tak sempat kupeluk saat kamu masih dekat. Kau di sana,   dengan langit yang lebih tinggi,   gunung-gunung yang menatapmu bangga,   sementara aku hanya diam di kaki dunia,   memandangmu dari jauh,   dengan rasa yang tak lagi bisa kusampaikan. Aku ingin bertemu,   bukan untuk mengubah takdir,   bukan untuk meminta kembali,   tapi hanya untuk merasakan lagi:   hadirmu yang du...

Tentang Jeda

 Tiba-tiba ingin deep talk sama dia, ehh ternyata dia nanggapi. aku bilang ke dia kalo aku "i feel tired and more sensitive lately". terus dia jawab: "you're tired of your expectations being too high. focus on you i've said many times". abis itu aku langsung diam dan langsung mikir kaya oh iya ternyata expectations aku yang terlalu berlebihan dan itu yang buat aku kecewa.  Bukankah komitmen itu palsu, sefrekuensi juga sementara. semua bisa pergi, bahkan setelah mereka berjanji ya begitulah dunia yang datang akan tetap pergi. memang tidak semua orang perlu tahu tentang luka kita, beberapa hanya penasaran dimana letaknya, hanya untuk menaruh garam dan menyayatnya lebih dalam.  Mencari tempat untuk sembuh itu boleh tapi hati hati. Seindah apapun huruf terukir serapih apapun aksara tersusun tetap tidak bermakna jika tidak kau beri jeda. Tetap akan sulit dimengerti jika tidak dihiasi spasi. biar ku katakan sekali lagi tentang jeda, tentang spasi yang mudah dipaha...