Skip to main content

Rindu yang ingin ditenangkan

Aku tidak tahu harus memulai dari mana. Rasanya ada begitu banyak yang ingin kusampaikan, tapi lidahku kelu dan hatiku penuh. Yang aku tahu pasti… aku merindukanmu. Bukan hanya rindu pada sosokmu, tapi juga pada kebersamaan yang pernah ada, perhatian-perhatian kecil, dan caramu membuat dunia terasa lebih hangat.

Aku masih ingat saat kamu mengejarku dengan ketulusan yang mungkin belum bisa aku hargai sepenuhnya waktu itu. Aku belum siap, belum tahu apa yang hatiku inginkan. Dan kini, ketika semuanya sudah berbeda, aku justru merasa... kehilangan sesuatu yang tidak sempat benar-benar kumiliki.

Mungkin aku terlambat menyadari, bahwa aku menyukaimu. Bahwa aku ingin kamu tetap di hidupku. Tapi kini, rasanya semua itu tidak mungkin lagi. Kamu sudah melangkah jauh, dengan hidupmu yang terlihat begitu hebat dan aku hanya bisa melihat dari kejauhan, diam-diam berharap kamu sesekali menoleh.

Jika aku diberi satu kesempatan untuk bertemu, aku tidak akan meminta banyak. Aku hanya ingin duduk di dekatmu, menatap matamu, dan merasakan lagi kehadiranmu, meski tanpa kata, tanpa harapan. Bukan untuk meminta kembali, tapi untuk menenangkan rinduku yang tak tahu harus kemana.

Dan meskipun kamu tak lagi bisa membalas perasaanku, aku ingin kamu tahu… kamu pernah begitu berarti. Dan mungkin, akan tetap begitu, meski waktu terus berjalan.

Terima kasih pernah hadir. Terima kasih pernah membuatku merasa istimewa, walau hanya sebentar.

Comments

Popular posts from this blog

Aku yang Bertahan, Aku yang Melanjutkan

Aku menulis dari titik yang tidak sepenuhnya terang, tapi cukup hangat untuk membuatku percaya bahwa melangkah masih mungkin; aku datang membawa ragu, rasa tertinggal, dan pertanyaan yang belum punya jawaban.  Hari ini aku memilih diriku sendiri, bukan dengan keputusan besar yang menggelegar, melainkan dengan langkah kecil yang jujur, menyiapkan alat, menata harapan, dan berkata pelan bahwa aku layak mencoba lagi. Aku tidak menghapus masa yang bingung; aku menggendongnya, membawa semua versi diriku yang takut, capek, dan hampir menyerah, lalu tetap berjalan.  Waktu berlalu, dan setahun kemudian aku kembali membaca kata-kata ini dengan senyum yang lebih tenang, ingin mengucap terima kasih karena ternyata bertahan saja sudah cukup untuk mengubah banyak hal.  Tidak semua mimpi langsung tercapai, masih ada hari ragu dan lelah, tetapi aku tidak lagi memusuhi diriku sendiri; aku belajar bahwa takut bukan tanda salah jalan, melainkan tanda aku peduli. Alat yang dulu kupilih deng...

Diamku, masih rindu.

Pernah, kau datang seperti pagi,   lembut, hangat, dan tanpa diminta,   menyapa hatiku yang belum sempat   belajar percaya pada cinta. Kau mengejarku dengan cahaya,   sementara aku hanya berdiri—   tak tahu arah,   tak tahu bahwa kamu adalah tempat pulang   yang tidak bisa kupahami saat itu. Kini waktu berputar pelan,   dan aku di sini…   mengeja namamu di sela harapan yang samar,   mencari jejakmu dalam tiap rindu   yang tak sempat kupeluk saat kamu masih dekat. Kau di sana,   dengan langit yang lebih tinggi,   gunung-gunung yang menatapmu bangga,   sementara aku hanya diam di kaki dunia,   memandangmu dari jauh,   dengan rasa yang tak lagi bisa kusampaikan. Aku ingin bertemu,   bukan untuk mengubah takdir,   bukan untuk meminta kembali,   tapi hanya untuk merasakan lagi:   hadirmu yang du...

Terlalu Pagi

Mungkin terdengar berlebihan jika diam-diam aku masih menyebut namamu dalam doa, memintanya dengan hati yang tak lagi seberani dulu. Aku tahu, kini hatimu telah berlabuh di tempat yang bukan lagi aku, dan kenyataan itu pelan-pelan kuterima, meski belum sepenuhnya kuikhlaskan. Rasanya memang masih terlalu pagi untuk berani mengatakan bahwa aku sudah melupakanmu. Sebab beberapa kenangan masih tinggal, menetap di sudut-sudut kecil ingatan, muncul tanpa diundang pada waktu-waktu yang paling sunyi. Perasaan ini belum selesai berjalan. Ia hanya memilih diam, memberi ruang pada diri sendiri untuk bernapas dan mengerti. Belajar membedakan mana yang harus dilepas, mana yang cukup disimpan sebagai cerita. Aku tak lagi meminta untuk kembali, hanya berharap hatiku suatu hari nanti cukup lapang untuk menerima kenyataan, dan cukup tenang untuk melepaskanmu tanpa menyimpan luka yang berisik.