Mungkin terdengar berlebihan
jika diam-diam aku masih menyebut namamu dalam doa,
memintanya dengan hati yang tak lagi seberani dulu.
Aku tahu, kini hatimu telah berlabuh
di tempat yang bukan lagi aku,
dan kenyataan itu pelan-pelan kuterima,
meski belum sepenuhnya kuikhlaskan.
Rasanya memang masih terlalu pagi
untuk berani mengatakan bahwa aku sudah melupakanmu.
Sebab beberapa kenangan masih tinggal,
menetap di sudut-sudut kecil ingatan,
muncul tanpa diundang
pada waktu-waktu yang paling sunyi.
Perasaan ini belum selesai berjalan.
Ia hanya memilih diam,
memberi ruang pada diri sendiri
untuk bernapas dan mengerti.
Belajar membedakan mana yang harus dilepas,
mana yang cukup disimpan sebagai cerita.
Aku tak lagi meminta untuk kembali,
hanya berharap hatiku suatu hari nanti
cukup lapang untuk menerima kenyataan,
dan cukup tenang
untuk melepaskanmu
tanpa menyimpan luka yang berisik.
Comments
Post a Comment