Skip to main content

Anak Bangsa Rindu Persatuan

kericuhan dan dugaan rasisme terhadap mahasiswa papua yang terjadi di beberapa kota besar di Indonesia amat sangat disayangkan. peristiwa ini seharusnya tidak terjadi di Indonesia, bangsa yang selalu mengedepankan keberagaman dan persatuan bangsa (katanya). aksi provokasi semakin mematik bara api kebencian ketika berita bohongs dan selembaran beruansa adu domba beredar di media sosial, alhasil demonstrasi berujung kerusuhan dan menjalar ke pemerintah, aparat keamanan, ormas, maupun masyarakat luas. kita harus meningkatkan sikap menghormati antara sesama dan memerangi rasisme apapun bentuknya yang dapat memecah belah persatuan anak bangsa. segala bentuk kecurigaan jangan sampai membuat orang bertindak anarkis, provokatif, dan rasis. Menahan diri dan mengedepankan pendekataan yang damai merupakan langkah tepat untuk mencegah segala macam permasalahan dan konflik agar tidak memanas terlebih lagi di era digital ini. banyak sekali oknum yang memanfaatkan media sosila untuk terus menggores isu-isu yang sedang berkembang.

pemerintah sejatinya sudaj berusaha memerangi rasisme (kata para aparat). payung hukumpu di buat untuk melindungi anak-anak bangsa dari diskriminasi ras. Regulasi terkait diskriminasi ras dan etnis tertuang dalam Undang-Undang  Nomor 40 Tahun 2008. pelaku rasisme bisa di kenai sanksi, dengan kurungan paling lama 5 tahun dan/atau denda hingga Rp500 juta. Presiden Jokowi juga suda menginstruksikan Kapolri untuk menindak secara hukum dengan tegas. 

kita semua sebagai anak bangsa sangat rindu persatuan dan kesatuan bangsa. harus kita sadari bahwa Indonesia ditakdirkan beragam dengan rasa, suku, budaya, dan agama yang berbeda-beda. proses edukasi secara menyeluruh  mengenai keberagaman perlu di gaungkan kembali oleh pemerintah mau pun oleh masyarakat. "KITA SEMUA BERSAUDARA, PAPUA ITU TERMASUK INDONESIA, PAPUA ITU SAUDARA KITA. SESAMA SAUDARA TIDAK BOLEH SALING MENYAKITI. MARI KITA BANGUN PERSAUDARAAN SESAMA ANAK BANGSA DALAM MEMBINGKAI BHINEKA TUNGGAL IKA UNTUK INDONESIA" 

Comments

Popular posts from this blog

Aku yang Bertahan, Aku yang Melanjutkan

Aku menulis dari titik yang tidak sepenuhnya terang, tapi cukup hangat untuk membuatku percaya bahwa melangkah masih mungkin; aku datang membawa ragu, rasa tertinggal, dan pertanyaan yang belum punya jawaban.  Hari ini aku memilih diriku sendiri, bukan dengan keputusan besar yang menggelegar, melainkan dengan langkah kecil yang jujur, menyiapkan alat, menata harapan, dan berkata pelan bahwa aku layak mencoba lagi. Aku tidak menghapus masa yang bingung; aku menggendongnya, membawa semua versi diriku yang takut, capek, dan hampir menyerah, lalu tetap berjalan.  Waktu berlalu, dan setahun kemudian aku kembali membaca kata-kata ini dengan senyum yang lebih tenang, ingin mengucap terima kasih karena ternyata bertahan saja sudah cukup untuk mengubah banyak hal.  Tidak semua mimpi langsung tercapai, masih ada hari ragu dan lelah, tetapi aku tidak lagi memusuhi diriku sendiri; aku belajar bahwa takut bukan tanda salah jalan, melainkan tanda aku peduli. Alat yang dulu kupilih deng...

Diamku, masih rindu.

Pernah, kau datang seperti pagi,   lembut, hangat, dan tanpa diminta,   menyapa hatiku yang belum sempat   belajar percaya pada cinta. Kau mengejarku dengan cahaya,   sementara aku hanya berdiri—   tak tahu arah,   tak tahu bahwa kamu adalah tempat pulang   yang tidak bisa kupahami saat itu. Kini waktu berputar pelan,   dan aku di sini…   mengeja namamu di sela harapan yang samar,   mencari jejakmu dalam tiap rindu   yang tak sempat kupeluk saat kamu masih dekat. Kau di sana,   dengan langit yang lebih tinggi,   gunung-gunung yang menatapmu bangga,   sementara aku hanya diam di kaki dunia,   memandangmu dari jauh,   dengan rasa yang tak lagi bisa kusampaikan. Aku ingin bertemu,   bukan untuk mengubah takdir,   bukan untuk meminta kembali,   tapi hanya untuk merasakan lagi:   hadirmu yang du...

Terlalu Pagi

Mungkin terdengar berlebihan jika diam-diam aku masih menyebut namamu dalam doa, memintanya dengan hati yang tak lagi seberani dulu. Aku tahu, kini hatimu telah berlabuh di tempat yang bukan lagi aku, dan kenyataan itu pelan-pelan kuterima, meski belum sepenuhnya kuikhlaskan. Rasanya memang masih terlalu pagi untuk berani mengatakan bahwa aku sudah melupakanmu. Sebab beberapa kenangan masih tinggal, menetap di sudut-sudut kecil ingatan, muncul tanpa diundang pada waktu-waktu yang paling sunyi. Perasaan ini belum selesai berjalan. Ia hanya memilih diam, memberi ruang pada diri sendiri untuk bernapas dan mengerti. Belajar membedakan mana yang harus dilepas, mana yang cukup disimpan sebagai cerita. Aku tak lagi meminta untuk kembali, hanya berharap hatiku suatu hari nanti cukup lapang untuk menerima kenyataan, dan cukup tenang untuk melepaskanmu tanpa menyimpan luka yang berisik.