Skip to main content

Padamu Kartini

21 April 2020
Aku ucapkan selamat hari ulang tahun.
Setelah kamu meninggal setengah surat-surat mu dikumpulkan, diringkas, dan dijilid menjadi sebuah buku yang sampai saat ini bisa aku baca. Bukumu yang berisi kesuksesan politik etis yang diberi judul Door Duisternis Tot Licht atau Habis Gelap Terbitlah Terang. Keperempuanan yang ada pada dirimu membuat tulisan-tulisanmu menjadi istimewah, ditengah penjajahan kamu masih bisa kritis dan menulis semuanya. Kamu menuangkan perasaan dan pengalamanmu sebagai perempuan. Kamu mengungkap kekecewaanmu terhadap adat yang membatasi tumbuh-kembang perempuan sampai kebingungan saat harus menikah karena gagal menempuh Pendidikan di Belanda.
Hari ini, Ketika kemajuan teknologi kian perkembang pesat, aku dan beberapa perempuan membaca suratmu. Kita setuju tentang gagasanmu mengenai keadilan sesama manusia menjadi feminisme. Gagasan yang sangat kamu idamakan sangat didambakan juga oleh kami perempuan-perempuan yang hidup dimasa sekaang. Tentang sebuah kehidupan yang setara tanpa ada perbedaan warna kulit dan status sosial, Gagasanmu tentang masyarakat yang adil.
Jika hari ini kamu masih hidup aku ingin memelukmu.aku ingin bercerita pada mu bahwa hari ini perempuan-perempuan sudah bisa memiliki cita-cita, menempuh Pendidikan tinggi dan jauh, kami sekarang tidak dibenbankan mengenai persoalan pernikahan atau urusan rumah tangga. Namun ada yang hilang gagasan dan semangat kemanusia yang membara dalam dirimu tidak ada dalam diri kami. Memang sekarang perempuan sudah bisa bersekolah, membaca, atau menulis. Tapi bukan berarti  perempuan sudah terlepas dari penderitaannya.

Comments

Popular posts from this blog

Aku yang Bertahan, Aku yang Melanjutkan

Aku menulis dari titik yang tidak sepenuhnya terang, tapi cukup hangat untuk membuatku percaya bahwa melangkah masih mungkin; aku datang membawa ragu, rasa tertinggal, dan pertanyaan yang belum punya jawaban.  Hari ini aku memilih diriku sendiri, bukan dengan keputusan besar yang menggelegar, melainkan dengan langkah kecil yang jujur, menyiapkan alat, menata harapan, dan berkata pelan bahwa aku layak mencoba lagi. Aku tidak menghapus masa yang bingung; aku menggendongnya, membawa semua versi diriku yang takut, capek, dan hampir menyerah, lalu tetap berjalan.  Waktu berlalu, dan setahun kemudian aku kembali membaca kata-kata ini dengan senyum yang lebih tenang, ingin mengucap terima kasih karena ternyata bertahan saja sudah cukup untuk mengubah banyak hal.  Tidak semua mimpi langsung tercapai, masih ada hari ragu dan lelah, tetapi aku tidak lagi memusuhi diriku sendiri; aku belajar bahwa takut bukan tanda salah jalan, melainkan tanda aku peduli. Alat yang dulu kupilih deng...

Diamku, masih rindu.

Pernah, kau datang seperti pagi,   lembut, hangat, dan tanpa diminta,   menyapa hatiku yang belum sempat   belajar percaya pada cinta. Kau mengejarku dengan cahaya,   sementara aku hanya berdiri—   tak tahu arah,   tak tahu bahwa kamu adalah tempat pulang   yang tidak bisa kupahami saat itu. Kini waktu berputar pelan,   dan aku di sini…   mengeja namamu di sela harapan yang samar,   mencari jejakmu dalam tiap rindu   yang tak sempat kupeluk saat kamu masih dekat. Kau di sana,   dengan langit yang lebih tinggi,   gunung-gunung yang menatapmu bangga,   sementara aku hanya diam di kaki dunia,   memandangmu dari jauh,   dengan rasa yang tak lagi bisa kusampaikan. Aku ingin bertemu,   bukan untuk mengubah takdir,   bukan untuk meminta kembali,   tapi hanya untuk merasakan lagi:   hadirmu yang du...

Terlalu Pagi

Mungkin terdengar berlebihan jika diam-diam aku masih menyebut namamu dalam doa, memintanya dengan hati yang tak lagi seberani dulu. Aku tahu, kini hatimu telah berlabuh di tempat yang bukan lagi aku, dan kenyataan itu pelan-pelan kuterima, meski belum sepenuhnya kuikhlaskan. Rasanya memang masih terlalu pagi untuk berani mengatakan bahwa aku sudah melupakanmu. Sebab beberapa kenangan masih tinggal, menetap di sudut-sudut kecil ingatan, muncul tanpa diundang pada waktu-waktu yang paling sunyi. Perasaan ini belum selesai berjalan. Ia hanya memilih diam, memberi ruang pada diri sendiri untuk bernapas dan mengerti. Belajar membedakan mana yang harus dilepas, mana yang cukup disimpan sebagai cerita. Aku tak lagi meminta untuk kembali, hanya berharap hatiku suatu hari nanti cukup lapang untuk menerima kenyataan, dan cukup tenang untuk melepaskanmu tanpa menyimpan luka yang berisik.