Skip to main content

aku masih dengan diriku

Aku masih dengan diriku yang sama, dengan prinsip hidupku yang awal (yang sempat tergoyahkan atas nama cinta HAHA) ---sudahlah---. Semua sudah selesai.

Hari ini aku sudah bisa melangkah sendiri, mencoba mengenal setiap hari yang aku lakukan. Aku meyakinkan diriku sendiri apa yang aku lakukan adalah benar. Tenang saja wahai diriku semua baik-baik saja, matahari masih bersinar. Mengapa kamu bersedih? Bukankan sebuah penolakan dan kegagalan membuatmu belajar tentang arti kesalahan dan perjuangan.

Setiap jiwa yang terlahir pasti memiliki mimpi namun tidak semua orang mau berproses dan mewujudkan mimpinya. Ada yang berhasil melewati mimpi tersebut, ada pula yang berakhir menyedihkan dengan meninggalkan mimpi dan bergabung dengan realitas hidup yang ada. Tidak peduli seberapa besar dan kuat mimpi tersebut tapi roda kehidupan yang menggerus perlahan membuat beberapa orang harus bersikap realistis dan mengalah pada impian.

Tapi malam ini aku sedang rindu yang bahkan aku sendiripun tidak menginginkannya.

AYOLAH! SO SEPUITISNYA DIRI INI. AKU JUGA TERMASUK MANUSIA YANG BERPIKIR LOGIS, MANA MUNGKIN MALAM AKAN MENYAMPAIKAN RINDU KU INI PADANYA 

Comments

Popular posts from this blog

Aku yang Bertahan, Aku yang Melanjutkan

Aku menulis dari titik yang tidak sepenuhnya terang, tapi cukup hangat untuk membuatku percaya bahwa melangkah masih mungkin; aku datang membawa ragu, rasa tertinggal, dan pertanyaan yang belum punya jawaban.  Hari ini aku memilih diriku sendiri, bukan dengan keputusan besar yang menggelegar, melainkan dengan langkah kecil yang jujur, menyiapkan alat, menata harapan, dan berkata pelan bahwa aku layak mencoba lagi. Aku tidak menghapus masa yang bingung; aku menggendongnya, membawa semua versi diriku yang takut, capek, dan hampir menyerah, lalu tetap berjalan.  Waktu berlalu, dan setahun kemudian aku kembali membaca kata-kata ini dengan senyum yang lebih tenang, ingin mengucap terima kasih karena ternyata bertahan saja sudah cukup untuk mengubah banyak hal.  Tidak semua mimpi langsung tercapai, masih ada hari ragu dan lelah, tetapi aku tidak lagi memusuhi diriku sendiri; aku belajar bahwa takut bukan tanda salah jalan, melainkan tanda aku peduli. Alat yang dulu kupilih deng...

Diamku, masih rindu.

Pernah, kau datang seperti pagi,   lembut, hangat, dan tanpa diminta,   menyapa hatiku yang belum sempat   belajar percaya pada cinta. Kau mengejarku dengan cahaya,   sementara aku hanya berdiri—   tak tahu arah,   tak tahu bahwa kamu adalah tempat pulang   yang tidak bisa kupahami saat itu. Kini waktu berputar pelan,   dan aku di sini…   mengeja namamu di sela harapan yang samar,   mencari jejakmu dalam tiap rindu   yang tak sempat kupeluk saat kamu masih dekat. Kau di sana,   dengan langit yang lebih tinggi,   gunung-gunung yang menatapmu bangga,   sementara aku hanya diam di kaki dunia,   memandangmu dari jauh,   dengan rasa yang tak lagi bisa kusampaikan. Aku ingin bertemu,   bukan untuk mengubah takdir,   bukan untuk meminta kembali,   tapi hanya untuk merasakan lagi:   hadirmu yang du...

Terlalu Pagi

Mungkin terdengar berlebihan jika diam-diam aku masih menyebut namamu dalam doa, memintanya dengan hati yang tak lagi seberani dulu. Aku tahu, kini hatimu telah berlabuh di tempat yang bukan lagi aku, dan kenyataan itu pelan-pelan kuterima, meski belum sepenuhnya kuikhlaskan. Rasanya memang masih terlalu pagi untuk berani mengatakan bahwa aku sudah melupakanmu. Sebab beberapa kenangan masih tinggal, menetap di sudut-sudut kecil ingatan, muncul tanpa diundang pada waktu-waktu yang paling sunyi. Perasaan ini belum selesai berjalan. Ia hanya memilih diam, memberi ruang pada diri sendiri untuk bernapas dan mengerti. Belajar membedakan mana yang harus dilepas, mana yang cukup disimpan sebagai cerita. Aku tak lagi meminta untuk kembali, hanya berharap hatiku suatu hari nanti cukup lapang untuk menerima kenyataan, dan cukup tenang untuk melepaskanmu tanpa menyimpan luka yang berisik.