Skip to main content

sedikit tentangnya

hari ini aku merindukannya, tapi aku tidak pernah memiliki status hubungan "pacaran" dengannya. entah siapa yang salah namun sampai hari ini aku masih menyalahkan diri sendiri. 

setelah dia tidak pernah lagi menghubungi ku, aku mulai memberanikan diri untuk membalas pesan dari laki-laki lain. namun ada seseorang yang menanyakan ini  

aku tidak pernah mengatakan pada siapapun bahwa aku trauma pada apapun, apalagi urusan yang berkaitan dengan laki-laki. 

katanya sih "orang yang trauma di masa lalu bisa kembali mencintai dengan tulus, tapi dia tidak akan percaya lagi bahwa dia dicintai". jika definisi trauma adalah katanya itu, mungkin benar aku trauma (terlalu alay sih kalo aku menyebutnya ini). udah ahh skip intinya aku ga trauma ko cuma karena kesedihan yang pernah aku lalui jadi aku lebih berhati-hati aja dalam merespon pesan dari laki-laki. 

aku menyakini dalam sebuah hubungan yang memiliki kendali besar itu ada di pihak laki-laki, jika laki-laki sudah mengakhiri sebuah hubungan maka hubungan itu akan benar-benar berakhir dan tidak akan terulang lagi, tidak akan pernah kembali. cerita selesai. 

Itu juga berlaku untuk sebuah hubungan selain pacaran, misal masih dalam fase pendekatan. 

Ali bin Abi Thalib pernah berkata "Sesungguhnya wanita (sanggup) menyembunyikan cinta selama empat puluh tahun, namun dia tidak (sanggup) menyembunyikan kecemburuan walaupun hanya sesaat.". dari statment itu seharusnya aku mampu menyembunyikan perasaan ini sampai akhirnya perasaan ini hilang (*harusnya*). 

aku ingin bercerita tentangnya, dia orang pertama yang pernah menyimpan namaku di bio instagramnya, dia orang pertama yang pernah membuat sg foto aku, dia juga oarang pertama yang pernah makan bareng satu meja dengan ku, dia juga orang pertama yang ngucapin ulang tahun ku dengan aplikasi (mungkin karena kebetulan dia mobile developer kali) memang aku tidak pernah memberikan yang spesial padanya. namun semua yang dia lakukan aku sangat menyukai itu (semuanya akan terkenang deh). 

cerita pdkt kita memang ga mulus, gara-gara aku sih karena aku suka bingung dengan perasaan ku saat itu di satu sisi aku masih belom move on dari mantan ku tapi di satu sisi aku udah sayang sama dia. terus ditambah ketidakmampuan ku untuk meresponnya dengan baik. 

saat ini aku benar-benar kehilangannya, sedih? iya. menyesal? sedikit. tapi sampai hari ini aku masih menunggunya menghubungiku lagi. 

masih terlalu pagi jika aku menceritakan tentangnya pada Tuhan ku perihal perasaan ini. jika memang jodoh pasti diberikan jalan. 

Comments

Popular posts from this blog

Aku yang Bertahan, Aku yang Melanjutkan

Aku menulis dari titik yang tidak sepenuhnya terang, tapi cukup hangat untuk membuatku percaya bahwa melangkah masih mungkin; aku datang membawa ragu, rasa tertinggal, dan pertanyaan yang belum punya jawaban.  Hari ini aku memilih diriku sendiri, bukan dengan keputusan besar yang menggelegar, melainkan dengan langkah kecil yang jujur, menyiapkan alat, menata harapan, dan berkata pelan bahwa aku layak mencoba lagi. Aku tidak menghapus masa yang bingung; aku menggendongnya, membawa semua versi diriku yang takut, capek, dan hampir menyerah, lalu tetap berjalan.  Waktu berlalu, dan setahun kemudian aku kembali membaca kata-kata ini dengan senyum yang lebih tenang, ingin mengucap terima kasih karena ternyata bertahan saja sudah cukup untuk mengubah banyak hal.  Tidak semua mimpi langsung tercapai, masih ada hari ragu dan lelah, tetapi aku tidak lagi memusuhi diriku sendiri; aku belajar bahwa takut bukan tanda salah jalan, melainkan tanda aku peduli. Alat yang dulu kupilih deng...

Diamku, masih rindu.

Pernah, kau datang seperti pagi,   lembut, hangat, dan tanpa diminta,   menyapa hatiku yang belum sempat   belajar percaya pada cinta. Kau mengejarku dengan cahaya,   sementara aku hanya berdiri—   tak tahu arah,   tak tahu bahwa kamu adalah tempat pulang   yang tidak bisa kupahami saat itu. Kini waktu berputar pelan,   dan aku di sini…   mengeja namamu di sela harapan yang samar,   mencari jejakmu dalam tiap rindu   yang tak sempat kupeluk saat kamu masih dekat. Kau di sana,   dengan langit yang lebih tinggi,   gunung-gunung yang menatapmu bangga,   sementara aku hanya diam di kaki dunia,   memandangmu dari jauh,   dengan rasa yang tak lagi bisa kusampaikan. Aku ingin bertemu,   bukan untuk mengubah takdir,   bukan untuk meminta kembali,   tapi hanya untuk merasakan lagi:   hadirmu yang du...

Tentang Jeda

 Tiba-tiba ingin deep talk sama dia, ehh ternyata dia nanggapi. aku bilang ke dia kalo aku "i feel tired and more sensitive lately". terus dia jawab: "you're tired of your expectations being too high. focus on you i've said many times". abis itu aku langsung diam dan langsung mikir kaya oh iya ternyata expectations aku yang terlalu berlebihan dan itu yang buat aku kecewa.  Bukankah komitmen itu palsu, sefrekuensi juga sementara. semua bisa pergi, bahkan setelah mereka berjanji ya begitulah dunia yang datang akan tetap pergi. memang tidak semua orang perlu tahu tentang luka kita, beberapa hanya penasaran dimana letaknya, hanya untuk menaruh garam dan menyayatnya lebih dalam.  Mencari tempat untuk sembuh itu boleh tapi hati hati. Seindah apapun huruf terukir serapih apapun aksara tersusun tetap tidak bermakna jika tidak kau beri jeda. Tetap akan sulit dimengerti jika tidak dihiasi spasi. biar ku katakan sekali lagi tentang jeda, tentang spasi yang mudah dipaha...