Skip to main content

Caption Instagram 2017

Ku pikir setelah menjauh darimu. Memulai hidup baru, aku bisa lepas sepenuhnya dari hal-hal yang pernah ada tentangmu. Aku bisa lepas dari perasaan yang belum tuntas kepadamu. Aku bisa melenyapkan segala rindu yang dulu sangat menggebu-gebu. Itulah sebabnya aku pergi menjauh meninggalkanmu dan semua perasaan sayang ini. Aku ingin bahagia. Meski tidak denganmu yang tidak bersedia membuatku bahagia. Namun aku heran kepadamu? saat aku memilih pergi seolah-olah kamu menahanku untuk tetap bersamamu. Kamu selalu memberi tanda agar aku tetap bersamamu. seolah-olah kamu mencintaiku. Dan semua perlakuan yang kamu berikan kepadaku membuatku berpikir ulang. berkali-kali aku menunda pergi dan berkali-kali aku memaafkanmu. Aku selalu berpikir jika kita bisa mengulang semuanya dengan baik, menjalani dan menghidupkan semua mimpi dan harapan yang pernah kita rencanakan untuk masa depan. Namun semua yang kita lakukan sangatlah percuma. sepanjang waktu berlalu yang aku dapatkan hanya luka yang tak pernah aku perlihatkan kepadamu. Kenapa? Karena aku yakin lambat laun kamu bisa menerimaku dan melupakan masa lalu mu, tapi aku salah. Kamu hanya memainkan perasaanku. Dan akhirnya aku sampai pada usahaku untuk melupan semua tentang mu. aku memang tidak sehebat kamu dalam perkara melupakan. Tidak bisa bagiku secepat itu merelakan. Namun percayalah, detik demi detik berlalu aku akan membunuh semua detak yang masih mengingikanmu. Akan ku benamkan kau didalam relung luka paling hitam. Aku tidak akan membiarkan sedetik pun untukmu bernafas tenang dalam kepalaku. Tidak ada tempat lagi untuk seseorang yang mengkhianati hatiku. Hanya saja, aku butuh waktu, semua memang tidak mudah bagiku. Biarlah pelan-pelan semuanya berjalan. Karena pada akhirnya kamupun tak akan lagi ada dalam bagian yang ku inginkan. Aku tidak ingin terlihat sedih dalam menghadapi sebuah perpisahan, tapi bukankah kamu tau perpisahan itu jadagnya melebihi air mata. 

Comments

Popular posts from this blog

Aku yang Bertahan, Aku yang Melanjutkan

Aku menulis dari titik yang tidak sepenuhnya terang, tapi cukup hangat untuk membuatku percaya bahwa melangkah masih mungkin; aku datang membawa ragu, rasa tertinggal, dan pertanyaan yang belum punya jawaban.  Hari ini aku memilih diriku sendiri, bukan dengan keputusan besar yang menggelegar, melainkan dengan langkah kecil yang jujur, menyiapkan alat, menata harapan, dan berkata pelan bahwa aku layak mencoba lagi. Aku tidak menghapus masa yang bingung; aku menggendongnya, membawa semua versi diriku yang takut, capek, dan hampir menyerah, lalu tetap berjalan.  Waktu berlalu, dan setahun kemudian aku kembali membaca kata-kata ini dengan senyum yang lebih tenang, ingin mengucap terima kasih karena ternyata bertahan saja sudah cukup untuk mengubah banyak hal.  Tidak semua mimpi langsung tercapai, masih ada hari ragu dan lelah, tetapi aku tidak lagi memusuhi diriku sendiri; aku belajar bahwa takut bukan tanda salah jalan, melainkan tanda aku peduli. Alat yang dulu kupilih deng...

Diamku, masih rindu.

Pernah, kau datang seperti pagi,   lembut, hangat, dan tanpa diminta,   menyapa hatiku yang belum sempat   belajar percaya pada cinta. Kau mengejarku dengan cahaya,   sementara aku hanya berdiri—   tak tahu arah,   tak tahu bahwa kamu adalah tempat pulang   yang tidak bisa kupahami saat itu. Kini waktu berputar pelan,   dan aku di sini…   mengeja namamu di sela harapan yang samar,   mencari jejakmu dalam tiap rindu   yang tak sempat kupeluk saat kamu masih dekat. Kau di sana,   dengan langit yang lebih tinggi,   gunung-gunung yang menatapmu bangga,   sementara aku hanya diam di kaki dunia,   memandangmu dari jauh,   dengan rasa yang tak lagi bisa kusampaikan. Aku ingin bertemu,   bukan untuk mengubah takdir,   bukan untuk meminta kembali,   tapi hanya untuk merasakan lagi:   hadirmu yang du...

Terlalu Pagi

Mungkin terdengar berlebihan jika diam-diam aku masih menyebut namamu dalam doa, memintanya dengan hati yang tak lagi seberani dulu. Aku tahu, kini hatimu telah berlabuh di tempat yang bukan lagi aku, dan kenyataan itu pelan-pelan kuterima, meski belum sepenuhnya kuikhlaskan. Rasanya memang masih terlalu pagi untuk berani mengatakan bahwa aku sudah melupakanmu. Sebab beberapa kenangan masih tinggal, menetap di sudut-sudut kecil ingatan, muncul tanpa diundang pada waktu-waktu yang paling sunyi. Perasaan ini belum selesai berjalan. Ia hanya memilih diam, memberi ruang pada diri sendiri untuk bernapas dan mengerti. Belajar membedakan mana yang harus dilepas, mana yang cukup disimpan sebagai cerita. Aku tak lagi meminta untuk kembali, hanya berharap hatiku suatu hari nanti cukup lapang untuk menerima kenyataan, dan cukup tenang untuk melepaskanmu tanpa menyimpan luka yang berisik.