Skip to main content

Catatan Lama dan Berulang (2019)

 Aku memutuskan untuk menikmati hidup sendiri dulu, untuk mengejar mimpi-mimpiku selama ini, untuk mewujudkan angan-angan yang aku miliki, mendalami diri sendiri, memahami arah dan tujuan hidup, serta mencintai diriku terlebih dahulu.

Tidak ada hal yang ingin aku sesali lagi dalam hidup, pertemuan serta perpisahan semua aku terima akhirnya dengan lapang dada, pilu dan sendu aku nikmati dengan suka cita, luka dan lara aku peluk erat agar luluh, untuk selanjutnya aku mampu lebih menghargai dan mengerti.

Tidak ada yang kebetulan di hidup ini, semua sudah Tuhan rancang sebaik dan sesempurna mungkin, barangkali kita saja yang salah mengartikan, kita saja yang kurang syukuri, dan hari ini aku semakin sadar bahwa apa yang sudah terjadi tidak sepatutnya aku sesali adanya dan tidak lagi ada yang harus disalahkan, sebab akhirnya tidak ada yang menang dan kalah dalam perpisahan.

Hari demi hari berlalu, satu per satu kutata kembali hari dan diri. Kesempatan demi kesempatan baru datang, dan semua aku hadapi dengan sebaik dan sedewasa mungkin. Sembari aku kenali mampu-mampuku sendiri, batas, dan mauku.

Untuk masalah percintaan aku tinjau ulang lagi, benar ternyata bahwa permasalahannya kerap terjadi karena ke-egoisanku dalam hubungan tersebut. Aku selalu ingin di nomor satukan dan diutamakan, aku selalu ingin dimengerti dan dipahami, iya aku memang sangat se-egois itu.

Dan aku lega, hari ini aku sudah melepaskan satu per satu ikatan yang terlalu kuat pada orang lain, aku mulai meredakan harap dan sesal berlebihan, yang nyatanya menyakitinya dan menyakitiku. 

Hari-hari seperti ini yang aku tunggu selama bertahun-tahun, hari di mana aku bisa menerima semua yang terjadi sebagai suatu pembelajaran untuk kuat dan teguhku, untuk prosesku tumbuh menjadi insan yang jauh lebih baik lagi kelak.

Kita semua punya kesempatan dan hak, kita semua memiliki satu titik balik untuk memberi jeda dan waktu bagi diri sendiri. nikmatilah proses itu, jangan sesali apa yang terjadi, perbanyak syukur agar senantiasa cukup. Hidup hanya satu kali untuk akhirnya kita habiskan jatuh dilubang yang sama, mengulang kesalahan yang sama, dan tidak pernah ingin mencoba mengerti diri sendiri.

Hari ini, aku ingin coba menyambut diriku yang baru, yang kuharap mampu menerima, menikmati, menghargai, dan memahami maksud semesta. Tidak apa bersedih, namun bahagia setelahnya. Tak masalah jatuh, namun tegak selanjutnya.

Comments

Popular posts from this blog

Aku yang Bertahan, Aku yang Melanjutkan

Aku menulis dari titik yang tidak sepenuhnya terang, tapi cukup hangat untuk membuatku percaya bahwa melangkah masih mungkin; aku datang membawa ragu, rasa tertinggal, dan pertanyaan yang belum punya jawaban.  Hari ini aku memilih diriku sendiri, bukan dengan keputusan besar yang menggelegar, melainkan dengan langkah kecil yang jujur, menyiapkan alat, menata harapan, dan berkata pelan bahwa aku layak mencoba lagi. Aku tidak menghapus masa yang bingung; aku menggendongnya, membawa semua versi diriku yang takut, capek, dan hampir menyerah, lalu tetap berjalan.  Waktu berlalu, dan setahun kemudian aku kembali membaca kata-kata ini dengan senyum yang lebih tenang, ingin mengucap terima kasih karena ternyata bertahan saja sudah cukup untuk mengubah banyak hal.  Tidak semua mimpi langsung tercapai, masih ada hari ragu dan lelah, tetapi aku tidak lagi memusuhi diriku sendiri; aku belajar bahwa takut bukan tanda salah jalan, melainkan tanda aku peduli. Alat yang dulu kupilih deng...

Diamku, masih rindu.

Pernah, kau datang seperti pagi,   lembut, hangat, dan tanpa diminta,   menyapa hatiku yang belum sempat   belajar percaya pada cinta. Kau mengejarku dengan cahaya,   sementara aku hanya berdiri—   tak tahu arah,   tak tahu bahwa kamu adalah tempat pulang   yang tidak bisa kupahami saat itu. Kini waktu berputar pelan,   dan aku di sini…   mengeja namamu di sela harapan yang samar,   mencari jejakmu dalam tiap rindu   yang tak sempat kupeluk saat kamu masih dekat. Kau di sana,   dengan langit yang lebih tinggi,   gunung-gunung yang menatapmu bangga,   sementara aku hanya diam di kaki dunia,   memandangmu dari jauh,   dengan rasa yang tak lagi bisa kusampaikan. Aku ingin bertemu,   bukan untuk mengubah takdir,   bukan untuk meminta kembali,   tapi hanya untuk merasakan lagi:   hadirmu yang du...

Tentang Jeda

 Tiba-tiba ingin deep talk sama dia, ehh ternyata dia nanggapi. aku bilang ke dia kalo aku "i feel tired and more sensitive lately". terus dia jawab: "you're tired of your expectations being too high. focus on you i've said many times". abis itu aku langsung diam dan langsung mikir kaya oh iya ternyata expectations aku yang terlalu berlebihan dan itu yang buat aku kecewa.  Bukankah komitmen itu palsu, sefrekuensi juga sementara. semua bisa pergi, bahkan setelah mereka berjanji ya begitulah dunia yang datang akan tetap pergi. memang tidak semua orang perlu tahu tentang luka kita, beberapa hanya penasaran dimana letaknya, hanya untuk menaruh garam dan menyayatnya lebih dalam.  Mencari tempat untuk sembuh itu boleh tapi hati hati. Seindah apapun huruf terukir serapih apapun aksara tersusun tetap tidak bermakna jika tidak kau beri jeda. Tetap akan sulit dimengerti jika tidak dihiasi spasi. biar ku katakan sekali lagi tentang jeda, tentang spasi yang mudah dipaha...