Aku memutuskan untuk menikmati hidup sendiri dulu, untuk mengejar mimpi-mimpiku selama ini, untuk mewujudkan angan-angan yang aku miliki, mendalami diri sendiri, memahami arah dan tujuan hidup, serta mencintai diriku terlebih dahulu.
Tidak ada hal yang ingin aku sesali lagi dalam hidup, pertemuan serta perpisahan semua aku terima akhirnya dengan lapang dada, pilu dan sendu aku nikmati dengan suka cita, luka dan lara aku peluk erat agar luluh, untuk selanjutnya aku mampu lebih menghargai dan mengerti.
Tidak ada yang kebetulan di hidup ini, semua sudah Tuhan rancang sebaik dan sesempurna mungkin, barangkali kita saja yang salah mengartikan, kita saja yang kurang syukuri, dan hari ini aku semakin sadar bahwa apa yang sudah terjadi tidak sepatutnya aku sesali adanya dan tidak lagi ada yang harus disalahkan, sebab akhirnya tidak ada yang menang dan kalah dalam perpisahan.
Hari demi hari berlalu, satu per satu kutata kembali hari dan diri. Kesempatan demi kesempatan baru datang, dan semua aku hadapi dengan sebaik dan sedewasa mungkin. Sembari aku kenali mampu-mampuku sendiri, batas, dan mauku.
Untuk masalah percintaan aku tinjau ulang lagi, benar ternyata bahwa permasalahannya kerap terjadi karena ke-egoisanku dalam hubungan tersebut. Aku selalu ingin di nomor satukan dan diutamakan, aku selalu ingin dimengerti dan dipahami, iya aku memang sangat se-egois itu.
Dan aku lega, hari ini aku sudah melepaskan satu per satu ikatan yang terlalu kuat pada orang lain, aku mulai meredakan harap dan sesal berlebihan, yang nyatanya menyakitinya dan menyakitiku.
Hari-hari seperti ini yang aku tunggu selama bertahun-tahun, hari di mana aku bisa menerima semua yang terjadi sebagai suatu pembelajaran untuk kuat dan teguhku, untuk prosesku tumbuh menjadi insan yang jauh lebih baik lagi kelak.
Kita semua punya kesempatan dan hak, kita semua memiliki satu titik balik untuk memberi jeda dan waktu bagi diri sendiri. nikmatilah proses itu, jangan sesali apa yang terjadi, perbanyak syukur agar senantiasa cukup. Hidup hanya satu kali untuk akhirnya kita habiskan jatuh dilubang yang sama, mengulang kesalahan yang sama, dan tidak pernah ingin mencoba mengerti diri sendiri.
Hari ini, aku ingin coba menyambut diriku yang baru, yang kuharap mampu menerima, menikmati, menghargai, dan memahami maksud semesta. Tidak apa bersedih, namun bahagia setelahnya. Tak masalah jatuh, namun tegak selanjutnya.
Comments
Post a Comment