Skip to main content

Mengetik Kembali

 Aku perlu waktu untuk mendalami diri sendiri, memahami arah dan tuju, serta mencintai diri sendiri. 

Aku belajar untuk tidak menyesali apa yang terjadi dalam hidup ku, pertemuan serta perpisahan semua aku terima dengan lapang dada, pilu dan sendu aku nikmati dengan suka cita, luka dan lara aku peluk erat agar luluh dalam damai, berikutnya aku harus mampu lebih menghargai dan mengerti maksud alam semesta. Tidak ada yang kebetulan dalam hidup ini, semua sudah Tuhan rancang sebaik mungkin, kadang aku saja yang salah mengartikan, aku saja yang kurang bersyukur, hari ini aku semakin tersadar tidak ada hal yang sepatutnya aku sesali adanya dan tidak ada yang perlu disalahkan, sebab akhirnya tidak ada kemenangan dan kekalahan yang sejati, tidak ada pula kesuksesan dan kegagalan yang kekal. 

Hari demi hari berlalu, satu persatu ku tata kembali hari dan diri. Kesempatan demi kesempatan ku yakin akan datang kembali dan aku berjanji akan menghadapi dengan sebaik dan sedewasa mungkin. Sembari aku mengenali mampu, batas dan mau ku. 

Aku sudah lega, hari ini aku sudah melepas satu persatu ikatan yang terlalu kuat pada orang atau hal lain, aku sudah mulai meredakan harapan dan sesal yang berlebihan, yang nyatanya itu sangat mengganggu dan menyakiti ku. Hari ini, hari yang ku tunggu dimana aku bisa belajar menerima semua yang terjadi sebagai bentuk pengalaman yang membentuk ku untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi kelak. 



Comments

Popular posts from this blog

Aku yang Bertahan, Aku yang Melanjutkan

Aku menulis dari titik yang tidak sepenuhnya terang, tapi cukup hangat untuk membuatku percaya bahwa melangkah masih mungkin; aku datang membawa ragu, rasa tertinggal, dan pertanyaan yang belum punya jawaban.  Hari ini aku memilih diriku sendiri, bukan dengan keputusan besar yang menggelegar, melainkan dengan langkah kecil yang jujur, menyiapkan alat, menata harapan, dan berkata pelan bahwa aku layak mencoba lagi. Aku tidak menghapus masa yang bingung; aku menggendongnya, membawa semua versi diriku yang takut, capek, dan hampir menyerah, lalu tetap berjalan.  Waktu berlalu, dan setahun kemudian aku kembali membaca kata-kata ini dengan senyum yang lebih tenang, ingin mengucap terima kasih karena ternyata bertahan saja sudah cukup untuk mengubah banyak hal.  Tidak semua mimpi langsung tercapai, masih ada hari ragu dan lelah, tetapi aku tidak lagi memusuhi diriku sendiri; aku belajar bahwa takut bukan tanda salah jalan, melainkan tanda aku peduli. Alat yang dulu kupilih deng...

Diamku, masih rindu.

Pernah, kau datang seperti pagi,   lembut, hangat, dan tanpa diminta,   menyapa hatiku yang belum sempat   belajar percaya pada cinta. Kau mengejarku dengan cahaya,   sementara aku hanya berdiri—   tak tahu arah,   tak tahu bahwa kamu adalah tempat pulang   yang tidak bisa kupahami saat itu. Kini waktu berputar pelan,   dan aku di sini…   mengeja namamu di sela harapan yang samar,   mencari jejakmu dalam tiap rindu   yang tak sempat kupeluk saat kamu masih dekat. Kau di sana,   dengan langit yang lebih tinggi,   gunung-gunung yang menatapmu bangga,   sementara aku hanya diam di kaki dunia,   memandangmu dari jauh,   dengan rasa yang tak lagi bisa kusampaikan. Aku ingin bertemu,   bukan untuk mengubah takdir,   bukan untuk meminta kembali,   tapi hanya untuk merasakan lagi:   hadirmu yang du...

Terlalu Pagi

Mungkin terdengar berlebihan jika diam-diam aku masih menyebut namamu dalam doa, memintanya dengan hati yang tak lagi seberani dulu. Aku tahu, kini hatimu telah berlabuh di tempat yang bukan lagi aku, dan kenyataan itu pelan-pelan kuterima, meski belum sepenuhnya kuikhlaskan. Rasanya memang masih terlalu pagi untuk berani mengatakan bahwa aku sudah melupakanmu. Sebab beberapa kenangan masih tinggal, menetap di sudut-sudut kecil ingatan, muncul tanpa diundang pada waktu-waktu yang paling sunyi. Perasaan ini belum selesai berjalan. Ia hanya memilih diam, memberi ruang pada diri sendiri untuk bernapas dan mengerti. Belajar membedakan mana yang harus dilepas, mana yang cukup disimpan sebagai cerita. Aku tak lagi meminta untuk kembali, hanya berharap hatiku suatu hari nanti cukup lapang untuk menerima kenyataan, dan cukup tenang untuk melepaskanmu tanpa menyimpan luka yang berisik.