Skip to main content

made in Indonesia

Di negeri tercinta ku ini semuanya terjadi....
korupsi katanya made in Indonesia. mungkin itu hanyalah ungkapan rasa muak segelintir orang terhadap "hama negara" yang sulit dibasmi. padahal sudah ada aparat kepolisian, aparat hukum, aparat pemerintah sampai ke lembaga superbodi seperti KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). namun masih saja banyak pejabat yang memanfaatkan jabatan dan kekuasaanya untuk saling memasang badan untuk melindungi para koruptor. mereka terlalu pintar membuat banyak siasat. tapi sayang rakyat sudah tidak bodoh, sudah banyak yang peduli dan sadar akan hal ini. kemarahan rakyat Indonesia adalah energi yang tak terkira. jika yang ku punya hanyalah kemarah maka aku akan sangat marah demi negara ini. kami adalah jutaan mata yang selalu memperhatikan, kepal tangan yang tak akan mudah tumbang.

dihadapan hukum semua mesti setara jangan sampai hukum tajam kebawah, tumpul keatas. Perlu ditekankan hukum bukan untuk mereka yang berkuasa, hukum tidak boleh menjadi buas pada masyarakat kecil.

mungkin beberapa dari kita tau akan kasta hukum. aku mengakui tidak ada hukum yang benar-benar sempurna. banyak dari mereka mengetahui celah untuk masuk dan memanfaatkan yang ada. di pengadilan pun banyak terlahir cerita duka. Hukum diciptakan agar tidak ada yang berani sewenang-wenang terhadap keadilan.

bukan rahasia lagi jika parlemen tidak suka dengan sepak terjang KPK. terlebih setelah KPK mengobrak-abrik parlemen dengan menyeret beberapa legislator ke kursi pesakitan. mereka semua di seret KPK ke meja pengadilan tipikor, karena terjerat kasus korupsi. ada yang tertangkap tangan, ada yang menyembunyikan kebenaran.

Comments

Popular posts from this blog

Aku yang Bertahan, Aku yang Melanjutkan

Aku menulis dari titik yang tidak sepenuhnya terang, tapi cukup hangat untuk membuatku percaya bahwa melangkah masih mungkin; aku datang membawa ragu, rasa tertinggal, dan pertanyaan yang belum punya jawaban.  Hari ini aku memilih diriku sendiri, bukan dengan keputusan besar yang menggelegar, melainkan dengan langkah kecil yang jujur, menyiapkan alat, menata harapan, dan berkata pelan bahwa aku layak mencoba lagi. Aku tidak menghapus masa yang bingung; aku menggendongnya, membawa semua versi diriku yang takut, capek, dan hampir menyerah, lalu tetap berjalan.  Waktu berlalu, dan setahun kemudian aku kembali membaca kata-kata ini dengan senyum yang lebih tenang, ingin mengucap terima kasih karena ternyata bertahan saja sudah cukup untuk mengubah banyak hal.  Tidak semua mimpi langsung tercapai, masih ada hari ragu dan lelah, tetapi aku tidak lagi memusuhi diriku sendiri; aku belajar bahwa takut bukan tanda salah jalan, melainkan tanda aku peduli. Alat yang dulu kupilih deng...

Diamku, masih rindu.

Pernah, kau datang seperti pagi,   lembut, hangat, dan tanpa diminta,   menyapa hatiku yang belum sempat   belajar percaya pada cinta. Kau mengejarku dengan cahaya,   sementara aku hanya berdiri—   tak tahu arah,   tak tahu bahwa kamu adalah tempat pulang   yang tidak bisa kupahami saat itu. Kini waktu berputar pelan,   dan aku di sini…   mengeja namamu di sela harapan yang samar,   mencari jejakmu dalam tiap rindu   yang tak sempat kupeluk saat kamu masih dekat. Kau di sana,   dengan langit yang lebih tinggi,   gunung-gunung yang menatapmu bangga,   sementara aku hanya diam di kaki dunia,   memandangmu dari jauh,   dengan rasa yang tak lagi bisa kusampaikan. Aku ingin bertemu,   bukan untuk mengubah takdir,   bukan untuk meminta kembali,   tapi hanya untuk merasakan lagi:   hadirmu yang du...

Terlalu Pagi

Mungkin terdengar berlebihan jika diam-diam aku masih menyebut namamu dalam doa, memintanya dengan hati yang tak lagi seberani dulu. Aku tahu, kini hatimu telah berlabuh di tempat yang bukan lagi aku, dan kenyataan itu pelan-pelan kuterima, meski belum sepenuhnya kuikhlaskan. Rasanya memang masih terlalu pagi untuk berani mengatakan bahwa aku sudah melupakanmu. Sebab beberapa kenangan masih tinggal, menetap di sudut-sudut kecil ingatan, muncul tanpa diundang pada waktu-waktu yang paling sunyi. Perasaan ini belum selesai berjalan. Ia hanya memilih diam, memberi ruang pada diri sendiri untuk bernapas dan mengerti. Belajar membedakan mana yang harus dilepas, mana yang cukup disimpan sebagai cerita. Aku tak lagi meminta untuk kembali, hanya berharap hatiku suatu hari nanti cukup lapang untuk menerima kenyataan, dan cukup tenang untuk melepaskanmu tanpa menyimpan luka yang berisik.