Skip to main content

Surat Cinta SMA

jika aku disuruh menggambarkan masa SMA ku dengan sebuah kata, maka kata yang tepat adalah INDAH (sweet banget ga? hehe) bukannya kita tau sapan tuh bukan sekedar nama daerah, lebih dari itu melibatkan banyak perasaan. aku lebih suka menyebut kalian dengan sebutan senja, seperti pada umumnya senja memiliki keindahan. kita semua tau setelah senja hilang datang malam yang gelap. begitu senang rasanya mengenal kalian begitu banyak pelajaran yang bisa ku dapat yang tak bisa ku sebutkan satu persatu.

*tulisan dibawah ini saya tulis di pangandaran 20 April 2019

mungkin hanya waktu yang bisa menjawab semua ini dan aku yakin perpisahan malam ini tak akan aku lupaka setiap detiknya. kita sudah menyimpan banyak cerita. setelah ini masing-masing dari kita akan mengejar mimpi kita. jika ada kesedihan dalam hidup, maka hari ini aku sangat bersedih.

kalian datang seperti hujan menyentuh tanah yang kering, kalian seperti air atau bahkan angin.
mulanya aku ga tau siapa nama kalian, berjalannya waktu kita berkenalan. kalian membuat semua orang bahagia begitu juga aku.

banyak sekali yang tak ku mengerti dalam hidup ini. sampai kalian memberi tahu ku itu apa hingga akhirnya kalian membuat diriku sangat berarti. tanpa ku sadari aku terperangkap dalam keindah senja SMA.



Comments

Popular posts from this blog

Aku yang Bertahan, Aku yang Melanjutkan

Aku menulis dari titik yang tidak sepenuhnya terang, tapi cukup hangat untuk membuatku percaya bahwa melangkah masih mungkin; aku datang membawa ragu, rasa tertinggal, dan pertanyaan yang belum punya jawaban.  Hari ini aku memilih diriku sendiri, bukan dengan keputusan besar yang menggelegar, melainkan dengan langkah kecil yang jujur, menyiapkan alat, menata harapan, dan berkata pelan bahwa aku layak mencoba lagi. Aku tidak menghapus masa yang bingung; aku menggendongnya, membawa semua versi diriku yang takut, capek, dan hampir menyerah, lalu tetap berjalan.  Waktu berlalu, dan setahun kemudian aku kembali membaca kata-kata ini dengan senyum yang lebih tenang, ingin mengucap terima kasih karena ternyata bertahan saja sudah cukup untuk mengubah banyak hal.  Tidak semua mimpi langsung tercapai, masih ada hari ragu dan lelah, tetapi aku tidak lagi memusuhi diriku sendiri; aku belajar bahwa takut bukan tanda salah jalan, melainkan tanda aku peduli. Alat yang dulu kupilih deng...

Diamku, masih rindu.

Pernah, kau datang seperti pagi,   lembut, hangat, dan tanpa diminta,   menyapa hatiku yang belum sempat   belajar percaya pada cinta. Kau mengejarku dengan cahaya,   sementara aku hanya berdiri—   tak tahu arah,   tak tahu bahwa kamu adalah tempat pulang   yang tidak bisa kupahami saat itu. Kini waktu berputar pelan,   dan aku di sini…   mengeja namamu di sela harapan yang samar,   mencari jejakmu dalam tiap rindu   yang tak sempat kupeluk saat kamu masih dekat. Kau di sana,   dengan langit yang lebih tinggi,   gunung-gunung yang menatapmu bangga,   sementara aku hanya diam di kaki dunia,   memandangmu dari jauh,   dengan rasa yang tak lagi bisa kusampaikan. Aku ingin bertemu,   bukan untuk mengubah takdir,   bukan untuk meminta kembali,   tapi hanya untuk merasakan lagi:   hadirmu yang du...

Terlalu Pagi

Mungkin terdengar berlebihan jika diam-diam aku masih menyebut namamu dalam doa, memintanya dengan hati yang tak lagi seberani dulu. Aku tahu, kini hatimu telah berlabuh di tempat yang bukan lagi aku, dan kenyataan itu pelan-pelan kuterima, meski belum sepenuhnya kuikhlaskan. Rasanya memang masih terlalu pagi untuk berani mengatakan bahwa aku sudah melupakanmu. Sebab beberapa kenangan masih tinggal, menetap di sudut-sudut kecil ingatan, muncul tanpa diundang pada waktu-waktu yang paling sunyi. Perasaan ini belum selesai berjalan. Ia hanya memilih diam, memberi ruang pada diri sendiri untuk bernapas dan mengerti. Belajar membedakan mana yang harus dilepas, mana yang cukup disimpan sebagai cerita. Aku tak lagi meminta untuk kembali, hanya berharap hatiku suatu hari nanti cukup lapang untuk menerima kenyataan, dan cukup tenang untuk melepaskanmu tanpa menyimpan luka yang berisik.