Skip to main content

cerita singkat pukul 11

Ini adalah hari terakhir kalian bertemu, kalian telah lulus SMA. sebentar lagi pindah ke perguruan tinggi mengejar mimpi-mimpi dan mungkin saling melupakan. Dia tak pernah tahu bahwa kau Mencintainya, teramat Mencintainya. yang dia tahu kau hanyalah sebatas teman sekelas biasa. tidak ada percakapan spesial diantara kalian, hanya dirimu yang senang mengirimnya pesan lewat Line.berpura-pura bertanya hal yang tidak penting.

ini adalah acara terakhir di sekolah kalian, namun hingga akhir acara kau tak menemukannya. para siswa beranjak dari kursi kursinya berkumpul dan berpelukan dengan teman-teman yang akan mereka tinggalkan, berfoto bersama berulangkali, dan kau masih mencarinya kau menunggu sampai akhirnya kau menemukan kesempatannya, dia sedang merangkul teman-temannya berbincang dan tertawa. "ini kesempatanku" ujarmu dalam hati. Kesempatan terakhir, kakimu terlalu berat melangkah meski kau ingin.

 jika ini film romantis kau sudah berlari Pergi mengejarnya meneriaki namanya tapi sayang ini bukan film romantis ini kehidupanmu yang nyata.

hanya mengucapkan "Wah, nggak bakal ketemu lagi kita yuk foto bareng yuu?" terasa amat memalukan. tapi ya sudahlah kau hanya bisa berkata "sukses selalu untukmu untuk kalian teman-teman ku"

kau masih sangat muda hari ini, perjalananmu masih sangat panjang seluruh kisah cinta yang terjadi hari ini hanya akan menjadi kenangan di kemudian hari.

 Namun aku hawatir kau berharap lebih terjebak dalam ekspektasi dan tidak berhenti mengingatnya maka aku hanya ingin bilang "buka kembali bukumu belajar lebih giat, lakukan berbagai hal untuk menemukan hal yang kau sukai dan kejar mimpimu. masa-masa sekolah dan kuliah hanya berulang sekali seumur hidup tidak ada yang mau bersama orang yang malas dan mudah putus asa sepertimu saat ini" ingat itu!

Comments

Popular posts from this blog

Aku yang Bertahan, Aku yang Melanjutkan

Aku menulis dari titik yang tidak sepenuhnya terang, tapi cukup hangat untuk membuatku percaya bahwa melangkah masih mungkin; aku datang membawa ragu, rasa tertinggal, dan pertanyaan yang belum punya jawaban.  Hari ini aku memilih diriku sendiri, bukan dengan keputusan besar yang menggelegar, melainkan dengan langkah kecil yang jujur, menyiapkan alat, menata harapan, dan berkata pelan bahwa aku layak mencoba lagi. Aku tidak menghapus masa yang bingung; aku menggendongnya, membawa semua versi diriku yang takut, capek, dan hampir menyerah, lalu tetap berjalan.  Waktu berlalu, dan setahun kemudian aku kembali membaca kata-kata ini dengan senyum yang lebih tenang, ingin mengucap terima kasih karena ternyata bertahan saja sudah cukup untuk mengubah banyak hal.  Tidak semua mimpi langsung tercapai, masih ada hari ragu dan lelah, tetapi aku tidak lagi memusuhi diriku sendiri; aku belajar bahwa takut bukan tanda salah jalan, melainkan tanda aku peduli. Alat yang dulu kupilih deng...

Diamku, masih rindu.

Pernah, kau datang seperti pagi,   lembut, hangat, dan tanpa diminta,   menyapa hatiku yang belum sempat   belajar percaya pada cinta. Kau mengejarku dengan cahaya,   sementara aku hanya berdiri—   tak tahu arah,   tak tahu bahwa kamu adalah tempat pulang   yang tidak bisa kupahami saat itu. Kini waktu berputar pelan,   dan aku di sini…   mengeja namamu di sela harapan yang samar,   mencari jejakmu dalam tiap rindu   yang tak sempat kupeluk saat kamu masih dekat. Kau di sana,   dengan langit yang lebih tinggi,   gunung-gunung yang menatapmu bangga,   sementara aku hanya diam di kaki dunia,   memandangmu dari jauh,   dengan rasa yang tak lagi bisa kusampaikan. Aku ingin bertemu,   bukan untuk mengubah takdir,   bukan untuk meminta kembali,   tapi hanya untuk merasakan lagi:   hadirmu yang du...

Terlalu Pagi

Mungkin terdengar berlebihan jika diam-diam aku masih menyebut namamu dalam doa, memintanya dengan hati yang tak lagi seberani dulu. Aku tahu, kini hatimu telah berlabuh di tempat yang bukan lagi aku, dan kenyataan itu pelan-pelan kuterima, meski belum sepenuhnya kuikhlaskan. Rasanya memang masih terlalu pagi untuk berani mengatakan bahwa aku sudah melupakanmu. Sebab beberapa kenangan masih tinggal, menetap di sudut-sudut kecil ingatan, muncul tanpa diundang pada waktu-waktu yang paling sunyi. Perasaan ini belum selesai berjalan. Ia hanya memilih diam, memberi ruang pada diri sendiri untuk bernapas dan mengerti. Belajar membedakan mana yang harus dilepas, mana yang cukup disimpan sebagai cerita. Aku tak lagi meminta untuk kembali, hanya berharap hatiku suatu hari nanti cukup lapang untuk menerima kenyataan, dan cukup tenang untuk melepaskanmu tanpa menyimpan luka yang berisik.